Defisit Ganda Mengintai Kita

Penggunaan pembiayaan defisit anggaran yang tidak produktif atau langsung mendorong kemampuan ekonomi berpotensi menimbulkan defisit ganda atau twin deficits. Yaitu, defisit APBN dan neraca pembayaran (balance of payment) yang terjadi dalam waktu bersamaan.

Situasi itu mencerminkan posisi suatu negara yang amat tergantung dari bantuan luar negeri. Sebab, status ini membuat siapapaun status negaranya membuatnya menjadi negara gali lobang tutup lobang dengan utang. Keluar dari kemelut defisit ganda mudah, tapi sangat pahit.

Menko Perekonomian Boediono pernah mengatakan, obat jangka pendek keluar dari situasi itu hanya satu, yakni memotong anggaran subsidi, dan itu pasti tidak disukai oleh rezim yang berkuasa. Dalam konteks ini, menurutnya ada tiga potensi pemicu defisit ganda bisa terjadi di Indonesia.

Ketiganya kesalahan arah kebijakan defisit APBN, nilai tukar rupiah dan neraca modal dalam neraca pembayaran. “Kalau tidak pas, ya ahirnya bisa ke sana. Tapi, khususnya kebijakan kurs dan capital account kita sekarang oke,” katanya, baru-baru ini di Jakarta.

Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo menuturkan, arah defisit yang salah seperti dipakai untuk belanja barang pemerintah, dan bukan untuk infrastruktur pendorong ekonomi, khususnya ekspor. Kemudian, arah kurs yang salah bila justru melemahkan nilai ekspor, dan pengelolaan neraca modal salah bila rentan terjadi pembalikan cepat dana asing atau redemtion.

Defisit ganda yang dipicu defisit anggaran karena belanja mubazir dicontohkan Meksiko dan Argentina pada tahun 1990-an. Mereka menggelembungkan defisit dengan utang, untuk kegiatan tidak produktif ekonomi. Negara-negara ini, terjerembab karena salah besar arah kebijakan ekonomi politiknya.

Sementara Amerika Serikat yang mengalaminya sejak 2000 hingga sekarang menjadikannya contoh negara yang terkena defisit ganda akibat beban subsidi atau pembiayaan social security. Terlepas dari anggaran militer yang melonjak akibat invasi ke Irak, masalah mereka juga dipicu defisit neraca perdagangan serius, khususnya dengan China.

Membawa masalah ini ke dalam negeri, pada situasi pembengkakan defisit RAPBN Perubahan 2008–yang tanpa langkah pengamanan mencapai 4,2%– akibat harga minyak dan pangan meroket, tampak risiko defisit ganda tengah mengintai Indonesia. Ini ditambah anomali, minyak mahal ditengah perekonomian duna melambat.

Singkatnya, ancaman itu bisa dimulai dari tujuan defisit RAPBN P 2008 sendiri. Menyimak alasan pemotongan 15% anggaran kementerian/lembaga, dengan mengorbankan ongkos pejabat, dan kegiatan tidak produktif birokrasi tampak kita seperti AS. Apalagi, pemerintah sudah menegaskan bila harga minyak sekitar USD110 per barel, subsidi bisa melonjak hingga Rp300 triliun.

Posisi subdidi seperti dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati adalah beban dalam APBN. “Subsidi tidak produktif,” katanya dalam rapat kerja dengan DPD, di Jakarta baru-baru ini. Menggelembungnya anggaran subsidi energi akibat harga minyak dunia, benar-benar telah menggerus ruang fiskal untuk mendorong perekonomian nasional.

Dengan pendapat ini, sangat beralasan kebijakan anggaran telah menjurus ke arah tidak produktif, karena tidak ada kaitan langsung dengan peningkatan membayar utang. Ini adalah, pemicu defisit ganda sebab menggerus peluang memperbesar dana anggaran produktif infrastruktur investasi dan belanja modal pemerintah lainnya.

Subsidi BBM juga beban karena sulit mengukur korelasi perbaikan daya beli masyarakat dengan besar anggaran yang digelontorkan. Ia memiliki hubungan dengan neraca modal, karena posisi Indonesia adalah net importir, bukan pengekspor BBM. Artinya, semakin besar volume subsidi, jumlah devisa tergerus, sehingga neraca pembayaran semakin tertekan.

Diambang Defisit

Selanjutnya, situasi perlambatan ekonomi dunia menghantui neraca pembayaran Indonesia dengan defisit. Seperti dipaparkan pemerintah dalam dokumen amanat presiden RAPBN Perubahan 2008, situasi dunia semakin tidak bersahabat.

“Pergerakan harga minyak… melambatnya pertumbuhan ekonomi dan volume perdagangan dunia, membawa pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perdagangan luar negeri Indonesia”.

Melesunya permintaan dunia berdampak serius terhadap neraca ekspor nonmigas, sehingga mengurangi perolehan cadangan devisa. Sebenarnya, nilai transaksi berjalan oleh ekspor bisa surplus devisa hingga USD31,4 miliar, tetapi defisit besar pada neraca jasa membuatnya hanya surplus USD8,7 miliar.

Ketergantungan terhadap forwarder asing mengangkut barang ekspor dan impor, serta maskapai domestik yang tidak laku dalam mengangkut para turis merupakan ancaman besar bagi defisit neraca pembayaran. Nilai defisit yang terus membengkak, tahun ini diperkirakan minus USD22,7 miliar perlu disikapi secara serius.

Memang, dalam estimasinya, neraca pembayaran tahun ini masih bisa surplus USD13,3 miliar. Selain sumbangan transaksi berjalan, diperkirakan karena neraca modal dan finansial yang surplus USD4,6 miliar. Kalkulasi pemerintah, itu dari penarikan utang luar negeri menjadi USD9,9 miliar dan melonjaknya arus uang panas di pasar uang sebesar USD3,5 miliar dari estimasi semula USD1 miliar.

Tetapi membanggakan diri dari surplus neraca pembayaran dengan kalkulasi itu jelas kurang bijak. Alasannya, sebab surplus neraca perdagangan hanya bertumpu pada ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam, sehingga hanya kenikmatan sesaat.

Demikian pula, surplus neraca finansial yang mengandalkan aliran modal jangka pendek lewat lantai bursa berisiko tinggi. Seperti akhir-akhir ini diberitakan, pengumuman suku bunga acuan oleh The Fed , pada hari libur saja telah mengoreksi aliran modal asing di bursa. Apalagi, ada berita yang lebih mengejutkan di luar sana.

Selebihnya, penarikan utang luar negeri sebesar itu tidak bisa menyembunyikan membengkaknya cicilan utang luar negeri, yang menggerus devisa USD6,7 miliar tahun ini. Alhasil, ini adalah tutup lobang gali lobang, terlebih surplus utang jadinya sekitar USD2,3 miliar, itupun bukan untuk pembiayaan produktif, atau guna membayar subsidi.

Pada akhirnya, tidak relevan lagi mempertanyakan apakah defisit APBN 2008 yang terus meroket membuat neraca pembayaran juga defisit. Sebab, tanpa itupun neraca kita sudah mengarah ke defisit, akibat komposisi yang tidak sehat.

Yaitu belum bisa menjadikan arus modal jangka panjang, ekspor produk industri sebagai penopang utama surplus neraca pembayaran. Yang terjadi, justru lonjakan dari tahun ke tahun defisit neraca jasa, dan menggelembungnya arus modal jangka pendek yang berpotensi menimbulkan bubble economy.

Apalagi, telah jelas bahwa kebijakan defisit saat ini bukan untuk ekspansi ekonomi, melainkan membiayai kegiatan tidak produktif. Defisit atau subsidi adalah ongkos politik menuju kursi RI-1 tahun 2009 yang berharga sangat mahal, dan semakin mempercapat defisit neraca pembayaran Indonesia…Selamat datang twin deficits!.

Note 2017; ditulis beberapa bulan menjelang krisis global 2008 yang dampaknya masih terasa sampai saat ini.

Comments

comments