Untuk para kapitalis merah

Anda boleh menamai saya apa saja. Sebab, saya bisa berubah-ubah dan bertukar wajah dengan siapa. Bagi saya, raut muka bukanlah masalah, sebab saya memang tidak hanya satu, bahkan bisa puluhan atau ratusan. Namun satu hal yang sangat pasti, saya adalah satu dalam sifat. Kebusukan niat dan kemunafikan pasti meniscaya pada mahasiswa model saya.

Saya hidup dalam Negara Kesatuan Republik Entah Berantah (NKREB), dengan 200 juta lebih rakyatnya. Tinggal di salah satu provinsi negara itu, saya memiliki latar belakang yang tidak istimewa. Lahir dari keluarga biasa-biasa saja, ayah yang pegawai negeri, ibu yang patuh, dan saudara-saudara yang melek agama.

Satu hal yang saya ingat pada bulan-bulan ini, waktu masih tinggal kampung saya selalu disuruh menancapkan bambu dengan unjung diatasnya diberi triplek bergambar Golkar. Ketika saya tanyakan pada ayah, beliau hanya menjawab. “ayah kan pegawai negeri”. Saya tidak pernah tahu apa hubungan PNS dengan Golkar waktu itu.

Kini saya adalah mahasiswa, saya tidak begitu pintar. Makanya saking inginnya ayah, memiliki anak yang bergelar sarjana, ia mengangguk saja ketika salah satu panitia SPMB menyodorkan kuitansi berjumlah dua juta perak. Yang pasti, ayah ingin saya jadi lebih baik, lebih kaya, dan lebih pintar darinya. Dan hingga kini, dibenak kebanyakan orang tua di negeri ini gelar sarjana adalah satu-satunya jalan untuk menghantar anaknya menjadi kaya. Rumusanya sederhana, pendidikan = investasi, maka gelar sarjana adalah jalan tunggal menuju kekayaan..

Saya, yang tadinya berpikir dunia ini selebar kampung, ikut ikut saja tindakan Pak Carik menyuruh ayah memasang gambar Golkar, nerimo dengan separuh hasil panen yang telah dipotong tengkulak, ucapan guru sekolah adalah doktrin, serta fatwa guru ngaji adalah kebenaran tunggal, kini merasa menemukan panutan baru.

Yakni, ketika saya merasa menjadi Marx muda saat membolak-balik Das Kapital. Saya tiba-tiba juga kemudian merasa hadir saat Karl Marx dan Frederich Engels merasa iba dengan kaum proletariat yang dihisap darahnya oleh kaum borjuis industri di Jerman dan Inggris pada awal kapitalisme dua abad silam. Pun saya adalah tentara Vladimir Lenin dalam revolusi 1917 atas kekaisaran Tsar Rusia. Selanjutnya saya juga merasa benar-benar sebagai aktifis gerakan prorakyat, menyatu dengan pemberontakan Che Guevara, dan akhirnya saya adalah seorang sosialis ilmiah sejati yang anti Hegelian.

Untuk itu, “lawan” adalah kata sakti untuk menunjukan siapa saya sebenarnya. Rakyat bagi saya adalah komunitas orang-orang miskin, bodoh, dapat ditipu dan sangat membutuhkan pertolongan. Sedangkan borjuis adalah kumpulan-kumpulan aristokrat kapitalis yang bersetubuh dengan birokrat yang bejat, amoral, hedonis, penghisap, dan mereka adalah simbol kezaliman yang tiada tara.

Mereka harus dilawan, dialektika materialistis harus ditegakkan, dan revolusi sosial yang total lewat class struggle harus dilakukan.Untuk itu para petani yang diserobot tanahnya oleh pengusaha, atau para karyawan yang di PHK adalah makanan empuk yang tidak boleh dilewatkan. Bagi saya mereka adalah komoditi unggul untuk mencapai kepopuleran.

Tiada lain organisasi pergerakan adalah pilihan paling strategis bagi saya. Bagi saya organiasai ini mirip gula jawa, dan pasti manis rasanya, makanya wajar jadi rebutan para semut macam saya.

Organisasi macam ini–meminjam istilah Antonio Gramsi– adalah organisasi intelektual organik, dan saya lebih tepat disebut sebagai intelektual organik itu, saya tidak lagi butuh pergerakan dalam pikiran, sebab saya harus kaya dan saya tidak ingin dikira intelektual salon. Saya lebih butuh pergerakan dalam kenyataan, sebab dengan itu popularitas akan mudah didapat. Pada akhirnya demonstrasi adalah pilihan satu-satunya, sebab corong-corong demokrasi telah dibekap oleh para konglomerat dengan uang hasil penggelapan pajak, BLBI, Bulog, mark up APBN dan APBD.

Setiap kali kebijakan miring pemerintah bagi saya adalah bubur ayam hangat yang harus buru-buru disantap. Dan setiap massa beraksi, saya selalu berkalkulasi siapa martir kali ini, dan memang harus ada martir. Ia adalah bumbu demontrasi untuk argumentasi bagi kesalahan polisi. Demonstran yang tewas adalah suhada yang menjadi tumbal keberhasilan aksi massa.

Saya selalu ada ketika aksi untuk berorasi, untuk selanjutnya pergi menjauh ketika anarki massa sudah menjadi-jadi. Dan, saya memang harus kabur duluan, sebab tidakkah sebuah perlawanan akan redup ketika sang pemimpin mati. Makanya saya harus pergi duluan, biarlah mereka para martir itu yang mati, toh jika tidak mati disini mereka akan mati dihisap para borjuis. Inilah pledoi saya.

Setiap kali ada belang pejabat atau pengusaha akan saya santap. Demonstrasi di setting, dan kemudian saya akan berhitung pejabat mana yang bakal kena sasaran. Sebab anak buah saya dimana-mana, dari kampus hingga orang-orang bodoh dipelosok desa. Kemudian saya akan berlagak menjadi penjudi berkartu truf, niscaya pejabat itu ciut karenanya, sebab borok mereka ada ditangan saya.

Sudah pasti, tiada tawar menawar disini, yang ada dan harus dipenuhi adalah berapa jumlah uang yang harus ia berikan pada saya. Jika tidak, rasakan sendiri akibatnya. Dipecat atau dipenjara, itu pilihan yang menakutkan pejabat rakus model dia. Selanjutnya, demonstrasi bagi saya adalah dagangan yang bisa diperjualbelikan. Siapa yang punya musuh politik, pasti dengan senang hati menggunakan jasa saya.

Apakah saya juga termasuk rakus? Ah tidak, saya terhitung masih lebih bersih daripada pejabat itu. Bagi saya alasannya cukup rasional, dan benar. Argumen ini mirip dengan ironi LSM yang gembar-gembor menentang kapitalisme dan anti penjajahan, namun dengan tangan tertengadah meminta-minta pada donatur asing berbendera Amerika, Belanda, Australia dan konco-konconya.

Bukankah mereka agen-agen imperialis? Iya Sih tetapi bagi saya ini seperti ajang pembalasan dengan menguras harta mereka kembali, sebab bukankah itu harta negara kita juga. Tetapi buat siapa dana itu? Ya buat saya sendiri, sebab saya kan sudah berjuang atas nama rakyat, jadi sudah sepantasnya saya memperoleh ‘gaji’ besar. Lantas bagaimana dengan rakyat? Nanti dong, saya dulu yang kaya, baru mereka.

Kemudian setiap kali, ada undangan dari luar daerah untuk pertemuan mahasiwa misalnya. Bagi saya gampang sekali untuk bisa kaya karenanya. Saya tinggal sowan pada pejabat-pejabat yang kartu trufnya sudah ditangan. Kalaupun kartu itu tidak ada, tidak masalah bagi saya untuk pura-pura merendahkan diri di depan para pejabat itu untuk selanjutnya meminta uang transport. Tak lupa, saya sudah mark up proposal dua sampai tiga kali lipat. Ketika, waktunya berangkat saya tidak perlu repot-repot. Toh proposal itu hanyalah boongan, kalaupun toh benar ada undangan, saya tinggal cuap-cuap dengan baris-baris kata di laporan pertanggungjawaban.

Ah mengenai proposal ini, saya cukup banyak diuntungkan. Sebab, sudah pasti anggaran untuk mahasiwa sudah tersedia di kemahasiswaan. Bagi saya itu sangat menguntungkan, sebab saya adalah orang nomor satu di lembaga eksekutif mahasiwa. Siapa juga yang akan berani berujar membongkar korupsi saya. Toh, lembaga legislatif mahasiswa adalah junior-junior saya di organisasi pergerakan. Singkat kata semua adalah orang-orang saya. Kalaupun toh ada yang usil, saya tidak pernah khawatir, sebab tentu saja satu satunya mahasiwa yang paling dekat rektor dan pembantu-pembantunya adalah saya. Para pejabat universitas itu akan lebih percaya pada saya katimbang mereka.

Meskipun pers kampus sempat membuat saya khawatir. Setelah saya pikirkan, hal itu rupanya masalah yang paling sepele untuk diatasi. Paling tidak dengan mengirimkan beberapa preman mahasiswa ke kantor redaksi, atau intimidasi tiap wartawannya sudah membuat mereka kebat-kebit. Pun, dengan koneksi saya dengan rektor atas nama seluruh mahasiwa di kampus ini saya bisa meminta dihentikannya dana kemahasiwaan bagi mereka. Atau bisa juga dengan membuat pers tandingan, saya pikir itu mudah dilakukan.

Kuliahku? Ah gampang. Mana ada pejabat universitas yang berani, mereka segan pada saya. Saya adalah aktifis! Kata kunci ini begitu sejak reformasi 5 tahun yang lalu. Dengan sebutan ini para dosen itu akan terlihat kerdil dimata saya, demikian pula mereka selalu memandang besar pada saya. Dengan sebutan ini, dan ditambah koneksi saya dengan mudah meminta nilai.

Belajar seperti mahasiswa lain bagi saya tidak perlu, toh para dosen sudah kenal saya. Lagipula mereka juga tidak tahu betapa malas dan bebalnya saya dalam belajar mata kuliah yang mereka ajarkan. Yang mereka tahu, saya adalah ketua Organisasi Pergerakan Mahasiwa Semau Gue (OPMSG). Lalu saya juga memimpin organisasi intrakampus ini dan itu.

Saya yakin, status yang banyak itu sudah cukup untuk mengelabuhi para dosen yang memang hanya berkutat pada diktat yang itu-itu saja. Seterusnya saya sudah cukup pintar dan tidak perlu lagi terbengong-bengong dibangku kuliah. Dan untungnya mereka percaya-percaya saja, kuliah saya hanyalah kebohongan belaka. Sebab itu memang perlu untuk memperoleh status pengangguran tak kentara, alias mahasiswa

Ketika pulsa hand phone saya habis, saya tinggal membuat keterangan tidak mampu untuk selanjutnya mendapat beasiswa. Bagi saya itu gampang, dengan sebungkus rokok saja saya sudah dapat membujuk para pegawai universitas yang memang gemar disuap itu untuk mencantumkan nama saya sebagi penerima santunan. Plus, ini belum ditambah dengan koneksi saya disemua lingkungan administrasi kampus.

Lalu tak ketinggalan, citra baik, cerdas, aktif dan imej religius adalah sesuatu yang harus selalu saya munculkan setiap saat. Sebab ini penting untuk karier politik nanti. Untuk yang terakhir itu cukup gampang saya lakukan. Untuk mendekati kelompok islam saya tinggal rajin-rajin saja memakai koko, dan memakai celana kain serta tak lupa melipatnya sampai mata kaki.

Tidak ketinggalan kopiah atau membawa kitab kecil. Taqwa bagi saya sangat mudah, tinggal pergi ke toko aksesoris muslim, dan jadilah saya orang bertaqwa dimata mereka. Untungnya lagi, kebanyakan mahasiswa kampus ini lebih mudah percaya simbol agama dari pada isi kepala dan hati. Apalagi, bagi saya amat mudah membohongi aktifis masjid yang tentu saja tidak mau berburuk sangka.

Sebaliknya, untuk merangkul mahasiwa kiri juga tidak begitu sulit. Tinggal lantang berteriak revolusi total, lawan, dan berputar-putar dengan retorika marxis sudah cukup untuk mendekati mereka. Tak lupa, kaos berwarna merah dengan gambar Che Guevara atau bintang, plus menenteng diktat tebal Das Kapital atau Madilog-nya Tan Malaka. Saat ini di kampus maupun diluaran, dengan lantang mengutuk Amerika dan sekutu-sekutunya lewat istilah imperialisme interasional sudah cukup bisa dipakai untuk meneguhkan diri sebagai seorang kiri. Imej seseorang yang mau menderita untuk membela yang tertindas.

Padahal yakin saja, mereka tidak tahu jika saya tidak pernah perduli bagaimana susahnya perjalanan Marx muda melakukan bunuh diri kelas dari seorang pembela mati-matian filsafat idealis Hegel menjadi seorang sosialisme ilmiah yang membenci Hegeli. Demikian pula yakin saja, mereka juga tidak akan tahu jika saya tidak terlalu perduli dengan kesusahan Marx dan Engels menyaring materialismenya Feurbach. Atau apa perduli saya dengan dinginya mayat Tan Malaka di Bengawan Solo.

Dan imej adalah persepsi dalam benak para dosen, mahasiswa dan pejabat-pejabat yang telah saya kibuli dan peras. Mereka tidak pernah tahu, saya tidur dan meniduri siapa tiap malamnya. Bagi saya, PSK tidaklah pantas untuk teman seranjang, sebab ada mahasiswi-mahasiswi muda yang cantik tapi bodoh yang bisa saya kelabuhi dengan retorika-retorika dan buaian impian masa depan. Kenyataannya siapa mahasiswi yang nggak tergila-gila pada aktifis model saya.

Dengan alasan organisasi atau sekedar tawaran menjadi pendamping dimasa depan, akan sangat mudah bagi saya melampiaskan nafsu bejat pada mereka. Kehamilan bukanlah hal yang menakutkan, sebab oral sex atau kondom ditangan sudah cukup bagi saya. Untuk melakukan itu semua tidak sulit bagi saya. Tinggal pilih dimana tempatnya, di toilet kampus, gedung kosong, atau sekretariat organisasi kala senja tiba. Pun bisa saja mengunci rapat-rapat pintu kost atau menyewa hotel. Toh, kebanyakan kost disekitar kampus ini tidak mempunyai induk semang, lagian siapa yang mau usil kalau gue tidur di hotel.

***

Kini saya telah bergelar sarjana, sebuah gelar yang umumnya malah tidak dimiliki oleh para aktifis kampus lainnya. Dan, semuanya selalu berjalan seperti yang apa yang saya inginkan. Dunia mahasiswa di kampus atau di pergerakan bagi saya seperti bermain game, dengan kode curang (cheat code) semua prosesnya dapat dilewati dengan satu kata; Kemenangan. Namun seperti waktu –bagi kebayakan mantan aktifis- saya juga merasa telah berubah pada wujud yang asli. Tiba-tiba kini saya makin bahwa Plato, David Hume, Berkeley, dan berujung pada Hegel adalah panutan terbaik yang harus saya ikuti, mereka adalah dewa-dewa dalam alam ideologi borjuasi.

Cap hedonisme yang kerap kali saya lontarkan pada mahasiwa yang hanya bergaya dikampus rupanya enak juga di kecap. Dan rupanya untuk itulah saya hidup, yaitu sebagai bagian materialistik mekanistik seperti apa yang ada diotak Aristippus of Cyrine dan Epicurus kira-kira 500 SM yang lampau.

Inilah hidup saya, egois guna meraih kesenangan adalah tujuan akhir dari kehidupan yang paling mulia bagi setiap insan. Dan bukankah pahlawan ekonomi kapitalis, Jhon Maynard Keynes pernah berujar bahwa keserakan adalah modal utama bagi umat manusia meraih kemakmuran?

Akhirnya tahapan kedua telah menanti, dan saya yakin saya akan menang. Sebab di panggung politik Republik Entah Berantah ini yang menang adalah mereka yang busuk. Lihatlah, betapa koruptor pun bisa mencalokan diri sebagai presiden.

Konglomerat bebas mengemplang utang negara. Pemerintah menyelamatkan koruptor. Suap adalah syarat tunggal administrasi. Hukum berbanding lurus dengan uang. Ah saya yakin sekali bahwa saya adalah generasi penerus yang dinanti-nantikan negeri ini. Sebab, karakter sarjana model saya memang benar-benar cocok dinegeri ini.

Lampung, sekitaran 2003 dan 2005

Comments

comments