Sekelumit gempita jelang krisis 2008

Sabtu malam (4/10/2008) tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke inbox telepon genggam saya, isinya pemberitahuan bahwa esok hari diminta kehadirannya untuk menghadiri briefing langsung dari Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati. Materi briefing tidak seperti biasanya, yaitu tentang perkembangan terkini krisis keuangan dunia dan dampak pada ekonomi, keuangan dan anggaran pemerintah Indonesia.

Bagi insan pers isi penjelasan Sri Mulyani ini adalah santapan empuk, dan pasti diingini pembaca ketika diwartakan. Terlebih sudah sejak lama pemberitaan berputar-putar pada kelesuan ekonomi Amerika Serikat yang diprediksi membuat perlambatan ekonomi dunia. Sebelum keterangan pers, hampir semua menteri dan pejabat negara setingkat menteri berkumpul merapatkan sikap pemerintah mengenai topik undangan itu di Gedung E, Kantor Pusat Departemen Keuangan.

Terdapat sedikitnya 70 orang jurnalis, baik cetak, internet, televisi radio ada di sana plus petinggi-petinggi media turut hadiri dalam acara tersebut. Setelah keterangan pers, semua media cetak memberitakan hal yang sama: Perekonomian Amerika Serikat akhirnya ambruk setelah sejak pertengahan 2007 terbelit krisis kredit perumahan atau dikenal dengan suprime mortgage crisis. Tetapi pemerintah meminta masyarakat tidak panik.

Setelah pengumuman, esok harinya Senin (6/10) sektor keuangan dunia ibarat terkena gelombang Tsunami. Nilai Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terperosok. Perdagangan 15 saham emiten utama terkena suspensi atau dihentikan aktifitas perdagangannya karena anjlok lebih dari 30%. Pada hari itu pula nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika serikat merosot 3,23% ke posisi Rp9.585 dari perdagangan sebelumnya.

Dibelahan dunia lain, hari itu aktivitas perdagangan saham di bursa saham Brasil dan Rusia terpaksa dihentikan sementara karena masing-masing anjlok hingga 10% dan 15%. Dua hari kemudian, otoritas BEI akhirnya juga melakukan suspensi aktivitas perdagangan saham selama tiga hari berturut-turut setelah IHSG anjlok 10,38%, dan terpelanting ke level 1.451,669 pada perdagangan saham hari Rabu (8/10).

Ini adalah suspensi pertama di BEI akibat masalah sentimen ekonomi, dan penutupan kedua setelah pada tanggal 13 September 2000 akibat insiden ledakan bom di BEI, ketika masih bernama Bursa Efek Jakarta. Posisi IHSG di level 1.451,669 merupakan terendah sejak September 2006. Apa gerangan yang terjadi?

Episentrum Tsunami bursa saham itu ada nun jauh di sana, Negeri Paman Sam. Rupanya negoisasi politik Presiden George W Bush dengan Dewan Perwakilan Rakyat AS mengenai rencana bailout pemerintah federal AS atas lembaga-lembaga keuangan di sana yang bankrut akibat krisis suprime mortgage buntu. Bailout bernama Troubled Asset Recovery Program (TARP) senilai US$700 miliar ini dipertanyakan urgensinya oleh parlemen. Terlebih itu semua adalah uang pajak.

Alhasil, Senin 29 September 2008 Indeks Wall Street mencatat kejatuhan terparah setelah Kongres AS tidak langsung menyetujui rencana bailout US$ 700 miliar itu. Indeks Dow Jones langsung turun 6,98% ke level 10.365. Jumlah kemerosotan ini lebih besar ketimbang penurunan indeks Wall Street pada 11 September 2001 setelah dua menara World Trade Center (WTC) rubuh diterjang pesawat oleh teroris.

Namun setelah rencana bailout disetujui oleh DPR AS, bahkan telah diteken oleh Presiden Bush, saham-saham di Wall Street masih saja loyo. Di sana pada Jumat, 3 Oktober 2008, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 156,51 poin (1,49%) ke level 10.326,34. Nasdaq juga melemah 29,33 poin (1,48%) ke level 1.947,39 dan S&P 500 turun 14,85 poin (1,33%) ke level 1.099,43.

Apa yang terjadi kemudian adalah kejatuhan indeks di bursa-bursa global, termasuk di Indonesia yang mengikuti sentimen negatif di bursa AS. Karena sejak hari itu (4/10/2008) hingga Senin pekan berikutnya indeks Wall Street terus merosot, dan kekacauan sistem keuangan AS semakin menjadi-jadi karena krisis keuangan mereka adalah baru permulaan dari krisis di sektor riil atau kegiatan usaha, seperti pernah di alami Tanah Air sepuluh tahun silam.

Hal yang perlu dicatat adalah meredanya kemerosotan indeks bursa saham dunia pada pekan-pekan itu justru bukan akibat dari proposal bailout yang diajukan Presiden Bush ke DPR. Meskipun pusat kekacauan indeks itu terjadi di Amerika Serikat, namun rebound atau kenaikan indeks dunia termasuk di Wall Street terjadi setelah hampir semua negara yang terkena imbas menyatakan program yang kurang lebih sama.

Semua negara mengumumkan paket-paket penyelamatan ekonomi, dan mengumumkan bersatu untuk melawan pelemahan indeks dan kebangkrutan bank-bank di negaranya. Sentimen positif yang membuat indeks dunia menguat, juga setelah Presiden Bush “meminta bantuan” negara negara lain menenangkan pelaku pasar.

Diantaranya, pertemuan Bush dan pejabat menteri keuangan negara anggita G-7, G-20 dan Dana Moneter Internasional (IMF). Pertemuan yang digelar pada Ahad (12/10/2008) itu membuat pernyataan bahwa negara-negara anggota G7 akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mengobati krisis kredit dan meningkatkan likuiditas perbankan.

Kemudian pertemuan pemimpin 15 negara-negara Uni Eropa yang kurang lebih berisi komitmen bersama untuk mencegah kebangkrutan bank di sana. Meski isinya kualitatif dan belum konkrit sudah mampu menenangkan pelaku pasar untuk menahan aksi jual sahamnya. Sentimen positif yang diciptakannya bahkan lebih konkrit dari pengumuman resmi bailout US$700 miliar oleh Presiden Bush.

Sentimen positif pelaku pasar semakin menguat takkala negara-negara maju lain juga mengumumkan rencana penyelamatan besar-besaran sektor perbankan mereka yang terseret krisis supreme mortgage. Sedikitnya 19 negara membuat paket darurat penyelamatan, misalnya pemerintah Inggris akan menggelar penyelamatan besar-besaran terhadap bank-bank ritelnya seperti HBOS, Royal Bank of Scotland, Lloyds TSB dan Barclays senilai US$60,5 miliar.

Sementara Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengumumkan penjaminan hingga 320 miliar euro untuk pinjaman antar bank hingga akhir Desember 2008, dan akan menyusun rencana rekapitalisasi bank-bank Prancis hingga 40 miliar euro. Pun, pemerintah Jerman mengumumkan paket kebijakan senilai 400 miliar euro (US$ 545 miliar) untuk jaminan utang dan 80 miliar euro dalam bentuk modal baru.

Pemerintah Australia mengumumkan untuk menjamin semua dana nasabah yang disimpan di bank-bank di Australia, dan berencana menyutikkan dana sekitar US$2,6 miliar ke pasar mortgage atau sektor perumahan domestiknya.

Di belahan Asia, Pemerintah Indonesia mengumumkan kenaikan jaminan simpanan dana setiap nasabah di bank dari semula Rp100 juta menjadi Rp2 miliar. Termasuk mempercepat penyusunan Undang-Undang Jaring Pengaman Sektor Keuangan melalui mekanisme Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, agar lebih cepat selesai untuk bisa menangkal krisis ekonomi.

Di Jepang, sejak Agustus 2008 sebelum bursa dunia tumbang pemerintahnya sudah mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai US$107 miliar. Ini karena perekonomian mereka sudah terkena dampak serius krisis ekonomi di AS sejak 2007.

Alhasil, semua upaya itu membuahkan hasil positif meski ketenangan dalam fluktuasi pasar modal tidak pernah bisa dijamin berlangsung lama, terlebih situasi gejolak ini gampang membuat pasar panik bila terdapat fakta baru. Namun, keberhasilan langkah-langkah pemerintah berbagai negara itu bisa tecermin dari

Pada sesi perdagangan bursa setelah rilis berbagai program penyelamatan itu, bursa saham acuan di Wall Street Amerika Serikat, Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka langsung meroket 383,19 poin (4,53%) ke level 8.834,36. Pun, saham-saham emiten perusahaan berbasis teknologi di Nasdaq juga menguat hingga 80,44 poin (4,88%) ke level 1.7729,95 dan Standard & Poor’s 500 menguat 34,70 poin (3,86%) ke level 933,92. Sementara indeks DAX Frankfurt Jerman menguat hingga 7,97%, di Paris naik 7,38%, London naik 5,27%, Madrid Spanyol naik 7,88%.

Bursa-bursa Asia pun menguat, termasuk IHSG di BEI yang pada dua hari berturut-turut setelah tiga hari diliburkan menguat 6,44% menjadi 1.555,967. Di Jepang juga terjadi kenaikan seperti juga indeks saham Singpura yakni Strait Times Index (STI) yang terdongkrak cukup besar, naik 5,04% menjadi 2.181,04.

Demikian pula bursa saham Korea Selatan yang mengalami kenaikan. Indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) naik 66,19 poin atau 5,14% menjadi 1.354,72. Sedangkan indeks Taiwan naik 6% atau 300,81 poin menjadi 5.321,25.

Gonjang-ganjing indeks global yang terjadi pekan kedua Oktober 2008 menunjukkan bahwa AS masih menjadi sentral perekonomian dunia. Untuk itu Mau tidak mau, suka tidak suka kerusakan ekonomi yang terjadi dan disebabkan oleh pelaku dan pemerintah AS telah membawa kepanikan hampir seluruh manusia di muka bumi.

Kesalahan Presiden Bush mengelola perekonomiannya, kemudian memaksa semua negara harus turut ‘menyelamatkannya’. Bukan karena ada ikatan politik, atau idiologis tetapi karena fakta bahwa AS saat ini tercatat memiliki peran 25,5% atas pertumbuhan ekonomi dunia. Meskipun perannya semakin mengecil setelah adanya Eropa bersatu, dan Asia memunculkan China dan India sebagai kekuatan baru ekonomi dunia setelah Jepang.

Perlu dicatat depresi ekonomi dunia pada era 1930-an yang menimbulkan dampak paling dahsyat dan paling lama sembuh salah satunya dipicu oleh rontoknya pasar modal AS secara drastis pada 29 Oktober 1929 yang dikenal dengan Black Tuesday. Sedikit banyak, naik turun indeks dunia mulai awal Oktober 2008 itu mengingatkan kembali potensi depresi ekonomi dunia 79 tahun lalu itu bisa saja terulang, sehingga bisa saja masa depan menyebut jatuhnya indeks global Oktober 2008 ini sebagai Black October atau Oktober Kelabu.

IHSG memang hanyalah salah satu indikator yang bisa menggambarkan stabilitas perekonomian. Namun gejolak yang terjadi di lantai bursa bisa mengungkapkan kondisi realitas ekonomi yang sebenarnya. Untuk itu apa yang terjadi di Wall Steet atau New York Stoc Exchange sebenarnya sedikit banyak sudah dapat mengungkapkan ketidakberesan dan seberapa dalam masalah yang terjadi di perekonomian AS.

Mukadimah Tsunami Finansial, 2009.

Comments

comments