Rupiah bisa tembus 15,000/US$1? yang bener jon?!

Ada sedikit keributan di jagad pewartaan hari ini. Beberapa media onlen bikin judul agak wow, “rupiah bisa tembus 15,000 rupiah per dollar AS”. Weleh weleh, ngerih dan perih cuk!!..

Nggak salah-salah, beritanya mengutip Standard and Poor’s. Lembaga rating top yang bikin keterangan pers siang tadi di Jakarta..Nggak lama berselang muncul kabar S&P membantah..walah..

Mana yang benar..please jangan tanya saya, wong saya saja malah nggak hadir di situ. Lagi pula bahasa enggres saya tarzan, mana ngeh arti sesungguhnya dari pernyataan pejabat pejabat S&P tadi siang.

Entah siapa yang salah, soal rupiah memang lagi seksi, apalagi dengan perkembangan ekonomi goomball saat ini. Ente ente yang udah rada tuwir pasti tau, gimana pedihnya rupiah waktu jebol 17,000 dulu, selepas 1998.

Ada banyak faktor yang memengaruhi rupiah, buanyak buku buku tua dan muda yang membahasanya. Salah satunya adalah ekspektasi. Ialah yang kerap kali menentukan, fundamental baru menyusul kemudian.

Repotnya, ekspektasi ini gampang ditipu, karena sangat di dipengaruhi oleh kondisi tolerasi pandangan dan jangkauan (jangan disingkat!!!). Ekspektasi itu wilayah psikologis, jadi dapet inpoh sesat..gaswat deh, macam hoax di media pesbuk dan WA. Terlebih lagi dewasa ini hoax dengan mudahnya dipercaya sebagai ayat-ayat..jadi bisa dibayangkan kalau hoax itu dibisikkan oleh orang-orang yang kita anggap dapat dipercaya…duh gustiiii paringi sabar…

Nih deskripsinya yang di comot asal dari gugel
Ekspektasi ~ bayangan yang kita harapkan bakal menjadi kenyataan, dan biasanya ini sangat bertolak belakang dengan realita yang ada. Semua orang pasti juga pernah mengalami ekspektasi ini. Dari harapan yang mungkin bisa terwujud sampai yang mungkin gak bakal bisa terwujud.

Realita, itu adalah fundamental. Untuk rupiah, ada beberapa faktor yang menentukan, sebut saja nilai ekonomi suatu negara aka PDB/produk domestik bruto, neraca pedagangan, cadangan devisa, inflasi, investasi, neraca keuangan..yield obligasi Amrik, tightening monetary policy..ihh apa sih banyak..banget..(dih ruwet amat yak,…ntar kita jembrengin ya lain kali kalau inget hehe).

Intinya, fundamental ini meminjam istilah om Mario Teguh–eh kemana tuh orang sekarang–adalah nilai kepantasan. Apakah misalnya rupiah 13,000 itu pantes kalau dituker sama satu biji dollar AS. Bukankah seharusnya 10,000 atau malah cuman 15,000?

Semua orang boleh boleh sajalah kasih nilai pantes gak pantesnya, cuman mbok ya mikir. Mosok dirimu yang guoblok dan kere pantes bersanding sama distro eh dian sastro…mikirrrr.

Nah dinegara tercinta ini, orang-orang di Bank Indonesia kita gaji gede untuk ngurusin nilai soal kepantasan itu dan menjaga agar nilai rupiah gak terombang ambing di lautan pasar global. BI kita gaji untuk menyetabilkan rupiah.

Udah mau nyampe nih KRL ditujuan. Karenanya mohon mangap apabila tulisan ini bergelombang seperti saya yang ngetik sambil berdiri di gerbong sesak ini..duh gusti, sumpek..

Terakhir, ini saya kasih kloningan transkrip dari kutipan yang bikin heboh hari ini. Bener atau salah nggak ditangging ya, wong ini saya comot dari grup WA wartawan tadi yang liputan disitu.

Q: what do you think of the how bad the impact of global volatility increase to the government budget? There is a good sign of oil price recovery but there is a trade off in government rising the fuel subsidy to the budget?

A: for the rupiah we had estimated that rupiah depreciation toward Rp15,000 level was the level to be watched. We have been through that in 2015, the rupiah went from Rp12,000 to Rp15,000 with the phase only in a few months. We see this level as the level as which you will start seeing a financial pressure for a lot of hedge companies, but you will also see behavior what we have to observe the Indonesia before, which is no immediate cash flow problem, but company is taking the decision to actually enter into proactive and restructuring with creditor, because they feel this Rp15.000 per USD is psychological level beyond which they cannot continue operating and they have to continue the renegotiation.

but we dont see that level today, as major problem because in 2015 they have been through a lot we didn’t see wide

I think the bigger issue related to the depreciation is beside the level is the phase of depreciation, is not the same going from lets say 17 to 15 within three or four years, that it is going from 17 to 15 in three or four months, because not only you see some stressed but investor confidence seems to get affected to fast depreciation.

That indirectly will cause a problem because when you have or you need to refinance, when the company has bond and they need to refinance, then the maturity level they could actually refinance in other case, but then actually you face the challenges, not only because your country will pay your debt interest and you don’t have enough capital providence in order to do that. so the 15.000 is the level to watch, and the rapid depreciation toward 15,000 is a real turbulence.

to be honest we dont see very much in the hedging willingness of the company simply because it’s still very expensive to hedge, it will cost you between 150-400 basis point in order to hedge, so today the average of recent transaction we see is 6-7 per cent, so then you have to pay almost double free hedge.

Menurut sampean gimana? Hehe

Comments

comments